KARANGASEM, Balifaktualnews.com – Di tengah lanskap hijau Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, tersimpan sebuah danau yang tidak hanya penting bagi sistem irigasi subak, tetapi juga melekat dengan nuansa mistis dan spiritual yang kuat. Danau yang dikenal masyarakat sebagai kawasan Pura Subak Yeh Malet ini menyimpan beragam cerita turun-temurun yang hingga kini masih diyakini kebenarannya.
Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, danau tersebut diyakini memiliki penunggu berupa seekor naga. Kepercayaan ini bukan sekedar mitos, melainkan bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga. Apalagi, ada hal unik yang sering dirasakan warga, yakni air danau yang disebut-sebut memiliki sedikit rasa manis, sesuatu yang menambah kesan ajaib dari tempat ini.
Made Pargita, warga setempat, mengungkapkan bahwa fenomena tak biasa juga pernah terjadi pada musim kemarau panjang. Saat itu, terdengar suara dentuman keras dari dalam danau, menyerupai ledakan.
“Suara itu sampai terdengar hingga ke Desa Telengan. Biasanya, setelah dentuman itu, tidak lama kemudian hujan turun dan danau kembali mengeluarkan air,” jelasnya.
Bagi masyarakat setempat, kejadian tersebut dianggap sebagai pertanda alam yang berulang kali terjadi, sekaligus menunjukkan betapa kuatnya kekuatan tak kasat mata yang menjaga kawasan tersebut.
Danau ini memiliki luas sekitar 10 hektar dan menjadi sumber kehidupan bagi pertanian di sekitarnya. Namun lebih dari itu, keberadaannya juga sarat nilai spiritual. Masyarakat setempat bahkan meyakini bahwa penyebutan nama pura di kawasan ini tidak boleh sembarangan. Secara adat, pura tersebut seharusnya disebut sebagai Pura Taman Sri, bukan Pura Yeh Malet.
Sementara itu, warga lainnya, I Ketut Maru, menuturkan bahwa danau ini juga sering didatangi oleh masyarakat yang ingin memohon kesembuhan. Mereka datang untuk nunas tirta, air suci yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan.
“Banyak yang datang karena sakit, lalu memohon tirta di sini,” ujarnya.
Tak hanya itu, pada masa lalu, kawasan danau juga sering digunakan sebagai tempat melukat atau ritual pembersihan diri secara spiritual. Bahkan, beberapa orang rela menuju ke tengah danau dengan menggunakan rakit demi mendapatkan ketenangan batin dan energi spiritual yang diyakini lebih kuat di titik tersebut.
Kini, masyarakat berharap agar kesucian dan kelestarian Danau Yeh Malet tetap terjaga. Di balik segala cerita dan fenomena yang menyelamatkannya, danau ini bukan hanya menjadi sumber udara, tetapi juga simbol keharmonisan antara alam, manusia, dan kepercayaan yang terus hidup dari generasi ke generasi. (ger/bfn)