DENPASAR, Balifaktualnews.com – Sanggar Seni Dhanan Jaya Banjar Pengayehan, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, dipercaya mewakili Kabupaten Badung dalam Utsawa (Parade) Wayang Kulit pada rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Pementasan berlangsung di depan Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Senin (6/7/2026).
Sebanyak 29 seniman terlibat dalam pertunjukan tersebut. Mereka membawakan lakon wayang kulit klasik berjudul Kresna Duta Durjana, yang mengangkat kisah penuh makna dari epos Mahabharata.
Cerita tersebut mengisahkan pergulatan batin Maha Raja Yudistira yang harus menghadapi peperangan melawan saudara, keluarga, hingga guru-gurunya sendiri dalam Perang Bharatayudha. Situasi itu menjadi ujian besar antara ikatan keluarga dan kewajiban menegakkan kebenaran.
Melalui dorongan Bima serta petunjuk Prabu Kresna, Yudistira akhirnya diyakinkan untuk tetap berjuang. Dalam kisah tersebut ditegaskan bahwa kejahatan harus dilawan demi menjaga tegaknya dharma meskipun harus menghadapi orang-orang terdekat.
Bagian klimaks cerita menampilkan wejangan Prabu Kresna kepada Yudistira mengenai hakikat pengabdian seorang ksatria. Kresna menegaskan bahwa pengorbanan tertinggi seorang ksatria adalah berani menghadapi kematian di medan perang sebagai bentuk penghormatan terhadap atman.
Dalang sekaligus Ketua Sanggar Seni Dhanan Jaya, I Made Ariawan, menjelaskan bahwa pemilihan lakon Kresna Duta Durjana disesuaikan dengan tema PKB XLVIII, yakni Atma Kerthi, yang mengangkat upaya memuliakan jiwa sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan.
“Karena sang ksatria yadnya-nya adalah di medan perang. Mati mendapatkan swarga, hidup akan mendapatkan kejayaan. Maka dari itu, sang ksatria tidak boleh mundur dalam medan peperangan. Hidup dan mati harus dipertaruhkan di sana. Begitu juga dalam tema Atma Kerthi ini, kita harus memberikan perjalanan atma bagaimana perjalanan atma itu agar menemukan tempat yang terbaik,” ujar Made Ariawan sebelum pementasan.
Menurutnya, pesan utama yang ingin disampaikan melalui pementasan tersebut adalah pentingnya menghargai keberadaan atman sejak masih menyatu dengan raga hingga saat meninggalkan tubuh. Nilai tersebut dinilai relevan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
“Di sini banyak ada petuah bagaimana cara kita menyayangi badan kita, atman yang ada dalam diri, dan juga bagaimana menyiapkan perjalanan atman ketika sudah lepas dari badan kita sendiri,” imbuhnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukadana, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Badung untuk terus memberikan dukungan kepada para pelaku seni yang tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bali sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.
“Pemerintah Kabupaten Badung pasti selalu mendukung penuh seniman terkait dengan pelestarian seni, tradisi, dan budaya di Bali,” kata Gede Sukadana.
Ia juga menilai seni pewayangan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi mengandung nilai-nilai filosofis yang penting dalam membentuk karakter masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, warisan budaya tersebut perlu terus dipahami, dicintai, dan dilestarikan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Ketika berbicara masalah wayang, di sana banyak filosofis-filosofis hidup yang perlu dijadikan acuan oleh krama Badung dan termasuk juga di dalamnya generasi muda Badung untuk membangun sebuah karakter. Untuk membangun sebuah karakter yang bisa mencintai yang telah diwariskan oleh leluhur kita, agar kita juga sebagai generasi muda bisa melestarikan,” tutup I Gede Sukadana. (bfn)