*Catatan Hendry Ch Bangunpendiri Forum Wartawan Kebangsaan*
Dalam hitungan jam, tahun akan berganti. Selamat tinggal 2025, selamat datang tahun 2026.
Di momen seperti ini biasanya seseorang memiliki keinginan, cita-cita, apa yang dia targetkan untuk dicapai di tahun 2026.
Ada yang ingin lebih sehat, ada yang berharap lebih makmur, atau lebih kaya, kedudukan lebih tinggi, atau menduduki jabatan tertentu.
Bagus. Siapapun harus punya target. Dan untuk mencapai sasaran itu dia membuat persiapan, menyusun strategi. Di perusahaan tempat saya bekerja dulu, menyusun rencana, dengan menyiapkan SDM, sumber daya lain, setelah melakukan SWOT. Lalu melakukan evaluasi bulanan, kwartal, semester, sebagai bahan cek atau membuat rencana B jika tantangan berubah, ada hambatan dsb.
Apakah dengan demikian target dapat tercapai. Semestinya. Biasanya. Tapi tidak harus sesuai harapan. Apalagi di era disrupsi yang penuh kejutan.
Harian Kompas sudah menyatakan tidak akan terbit lagi. Hanya menyediakan versi PDF. Sebenarnya sama saja, untuk manusia era digital. Tapi karena itu melanda Kompas yang baru saja merayakan usia 60 tahun. Yang dianggap paling makmur dan kuat, gejala ini menjadi tanda-tanda akhir zaman bagi media cetak.
Sebenarnya kalau Kompas mau “jual diri” pasti masih bisa hidup nyaman. Ada banyak yang mau membeli, saya bahkan pernah disuruh ikut bertanya kepada Pak Jakob Oetama, ketika dia masih hidup. “Lu rayu dong Pak JO. Gua mau beli. Atau tukar deh,” kata dia. Tapi saya tidak berani melakukannya. Saya hanya Redaktur dan tidak punya akses bicara 4 mata kepada pendiri dan pemilik Kompas itu.
Dan saya yakin juga akan ditolak. Saya tahu ruang redaksi dan sikap mandiri teman redaktur. Tidak akan bisa mengendalikan siapa pun, kecuali hati nurani. Kalau di zaman kemerdekaan dulu, slogannya “Merdeka atau Mati”. Ketimbang dijajah.
Tapi alarm ini seharusnya mengusik siapa pun. Termasuk negara. Kompas itu dengan segala kekurangannya, merupakan sesuatu bagi Indonesia. Entahlah, kok tidak ada reaksi yang jelas dari kekuasaan.*
Sebagai pribadi, apa pernyataan tujuan Anda di tahun 2026?
Kalau saya tentu ingin lebih sehat, menjalani hidup tenang, tetap kreatif, banyak silaturahmi dengan teman, dan tentu saja kantong tetap terisi dengan baik.
Bagi mereka yang sudah tergolong lansia, di atas 65 tahun, harapan terbesar tentu dapat terus mengelola jiwa dan raga. Stabil. Berimbang. Nyaman. Menikmati hidup. Agar kelak berakhir dengan baik. Husnul khatimah.
Kalau berkaca ke tahun-tahun yang lalu, dalam urusan keluarga, kerja, dan organisasi, kita tidak boleh selalu menengok kaca spion. Sesekali boleh sebagai refleksi, agar tidak terantuk batu yang sama.
Khususnya agar kesalahan terhadap seseorang, tidak terjadi lagi. Apalagi kalau pernah menyakiti. Mendzalimi, menipu, memfitnah, mencaci maki, merusak nama baik orang.
Kalau masih sempat sampaikan permohonan maaf. Mumpung ada waktu. Kalau nafas sudah berhenti, betapa ruginya kita ketika nanti ditagih akibat dosa yang belum dimaafkan seseorang.
Lagi pula, kalau sudah meminta maaf biasanya hati jadi longgar. warisan. Mengurangi beban. *
Yang jelas bagi saya tahun 2025 ditandai dengan berdirinya Forum Wartawan Kebangsaan (FWK). Organisasi kecil ini, diinisiasi oleh teman wartawan senior, yang ingin terus menyuarakan aspirasi khususnya terkait masalah kebangsaan karena diungkapkan.
Sebagai wartawan yang sudah puluhan tahun di media, gabung dalam organisasi profesi, tidak mudah untuk menutup mata dan telinga atas berbagai masalah yang ada di depan mata.
Harus ada sikap. Harus bersuara. Harus menyampaikan pesan. Tapi juga solusi.
Menyampaikan pemikiran alternatif untuk mereka yang mengelola penyelenggaraan negara.
Bukan sekedar mengingatkan atau mengusik, tapi agar problematika yang ada, berpikir bersama.
Penyelenggara negara yang aktif, biasanya fokus bekerja, fokus pada urusannya yang sektoral. Perlu ada pikiran lain, agar tahu, sadar, terbuka, dari sisi lain. Dalam hal ini dari kalangan wartawan yang salah satu fungsinya adalah menyuarakan aspirasi rakyat, sebagai penyambung lidah rakyat, dalam istilah Bung Karno dulu.
Wartawan banyak tahu, meski banyak juga yang sok tahu. Wartawan masih mempunyai hubungan dengan penguasa, atau mantan penguasa. Jejaring itu perlu untuk mengetahui sesuatu di balik peristiwa. Agar tahu duduk persoalannya. Tidak hanya yang tersiar di media, berupa keterangan resmi.
Forum Wartawan Kebangsaan ingin menjadi mata telinga, sekaligus corong bagi rakyat, untuk ikut berperan menjadikan Indonesia maju bagi seluruhnya. Dimanapun dia. Siapapun dia. Indonesia untuk semua.
FWK berslogan NKRI Harga Mati. Urusan kedaulatan bangsa harus nomor satu. Berbeda boleh tapi semuanya untuk Tanah Air tercinta.
Maka di tahun 2026, semua pemikiran, gagasan, daya upaya, akan terus disuarakan, digelorakan, dengan penuh semangat. Semangat mengingatkan, semangat memberi pencerahan, dan jalan keluar demi Indonesia tercinta.
Selamat Tahun Baru.