DENPASAR, Balifaktualnews.com – Gubernur Bali Wayan Koster mengajak para pengembang perumahan yang tergabung dalam wadah Real Estate indonesia (REI) berkolaborasi untuk menyusun konsep perumahan masa depan yang lebih hemat lahan. Menurutnya, hal ini diperlukan untuk mengatasi ketersediaan lahan di masa depan yang akan semakin berkurang seiring dengan pertumbuhan penduduk. Hal itu disampaikan Gubernur Koster dalam sambutannya saat pembukaan Rakerda REI Bali Tahun 2026 di Quest San Hotel Denpasar, Rabu (8/7/2026).
Mengawali Berbagainya, Gubernur Koster menyinggung ketersediaan lahan yang menjadi tantangan Bali dalam upaya penyediaan perumahan layak huni. Menjawab tantangan tersebut, pengembangan perumahan di Pulau Dewata harus dirancang secara khusus karena semakin berkurangnya lahan.
“Bali itu kecil, luasnya hanya 5.590 kilometer persegi. Secara umum tingkat kepadatan penduduk masih bagus, kecuali Kota Denpasar,” ujarnya.
Menyikapi hal ini, menurutnya Bali membutuhkan desain untuk perumahan warga di kawasan perkotaan dan perdesaan.
“Kita harus punya desain perumahan dengan pemanfaatan lahan yang lebih efisien. Jangan sampai satu rumah dirancang dengan kebutuhan lahan yang luas, lama-lama lahan akan habis hanya untuk rumah,” urainya.
Lahan Produktif Tak Bisa Dilabrak untuk Kawasan Pemukiman
Ditambahkannya, konsep pemanfaatan lahan yang efisien sejalan dengan implementasi Perda Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Produktif dan Larangan Praktik Nominee.
“Artinya, lahan produktif tak bisa dilabrak untuk pengembangan kawasan organisasi. Hanya lahan tak produktif saja yang boleh dikembangkan,” cetusnya.
Untuk itu, ia meminta OPD terkait pemetaan kawasan yang dapat dikembangkan sebagai organisasi di setiap kabupaten dan kota.
Gubernur Bali dua periode ini juga menyinggung aspirasi REI terkait batas minimum pengembangan perumahan yang saat ini ditetapkan seluas 100 meter persegi.
“Ini PR bagi saya. Saya akan berdiskusi dengan para bupati agar luasan itu bisa dikurangi agar lebih fleksibel,” imbuhnya.
Ia berpendapat, hal ini harus menjadi perhatian karena tekanan terhadap lahan akan semakin tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
“Tak bisa lagi satu rumah itu 5 are, 10 are. Sudah harus merancang konsep rumah masa depan yang efisien dan efektif. Seperti rumah-rumah di Jepang itu, interiornya kecil-kecil. Sehingga lebih hemat lahan, khususnya di Kota Denpasar,” tutupnya.
Ketua DPD REI Bali, Anak Agung Darma Setiawan dalam Berbagainya mengatakan, kegiatan ini bukan sekedar agenda tahunan, namun merupakan momentum evaluasi agar organisasi ini semakin kuat dan adaptif dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Darma Setiawan menambahkan, pertumbuhan ekonomi merupakan peluang bagi anggota REI karena kebutuhan hunian pasti meningkat.
“Terlebih lagi saat ini pemerintah punya program tiga juta hunian bagi masyarakat. Sebagai organisasi pengembang tertua dan terbesar, REI punya tanggung jawab besar dalam menyukseskan program ini dengan menggerakkan ekosistem dan memberi kontribusi nyata,” terangnya.
Masyarakat Bali harus Bangga, Gubernur Koster Profesional dan Rasional
Sementara itu, Ketua DPP REI Joko Suranto mengapresiasi kehadiran Gubernur Koster pada Rakerda REI Bali.
“Ini membuktikan bahwa Bapak Gubernur Bali profesional dan rasional, masyarakat Bali harus bangga,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Joko Suranto menyampaikan tingginya tingkat investasi properti di Daerah Bali yang mencapai Rp. 12, 1 triliun. Namun demikian, besarnya investasi ini memerlukan invasi dan perhatian dari pemerintah.
“Ini penting agar investasi sebesar itu dikelola dengan cara yang baik,” ujarnya. Menurut dia, hal yang paling dibutuhkan saat ini adalah penetapan zonasi dan kehadiran lembaga yang bertindak sebagai offtaker.
Ketua Panitia Rakerda REI Bali, Anak Agung Ngurah Ananta Wijaya menginformasikan, kegiatan yang melibatkan 61 peserta ini bertujuan untuk evaluasi dan penyusunan program kerja serta menyatukan langkah-langkah dalam menghadapi tantangan dalam sektor properti.(ger/bfn)