KARANGASEM, Balifaktualnews.com –Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang terkunci, kehidupan ternyata terus berputar. Kamis (26/3) pagi itu, suasana di Lapas Kelas IIB Karangasem terasa berbeda. Bukan hanya langkah para petugas yang terdengar, tetapi juga banyak warga kecil yang datang, menjelajahi meja-meja sederhana yang dipenuhi karya.
Di sana, puluhan hasil kerajinan tangan tersaji. Lukisan dengan warna-warna berani, anyaman yang rapi, hingga makanan makanan dan hasil pertanian yang segar. Semuanya bukan karya biasa—melainkan buah tangan warga binaan dari Lapas, Rutan, dan Bapas se-Bali.
Bazar itu bukan sekedar tempat jual beli. Ia menjadi jembatan antara mereka yang pernah terasing dengan masyarakat yang perlahan belajar menerima.
Kepala Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Bali, Decky Nurmansyah, menyebut kegiatan ini sebagai ruang untuk menunjukkan bahwa di balik stigma, ada proses panjang yang sedang dijalani.
“Ini upaya kami agar bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Di salah satu sudut, sayuran segar seperti kangkung, sawi, dan terong tertata rapi. Jauh dari sana, telur hasil peternakan juga menarik perhatian pengunjung. Semua itu ditanam, dirawat, dan dihasilkan oleh tangan-tangan yang kini sedang belajar memperbaiki diri.
Beberapa warga yang datang tampak antusias. Harga yang terjangkau membuat mereka ragu membeli. Namun lebih dari itu, ada rasa ingin tahu dan mungkin, sedikit rasa empati yang ikut dibawa pulang.
Bagi para warga binaan, setiap barang yang terjual bukan sekadar angka. Itu adalah pengakuan kecil bahwa karya mereka dihargai, bahwa mereka masih punya tempat untuk kembali.
Bazar ini juga menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan yang akan berlangsung pada bulan April mendatang. Sebuah momentum yang ingin diisi bukan hanya dengan seremoni, tetapi juga aksi nyata.
Kegiatan serupa, kata Decky, bukan hal baru. Namun setiap pelaksanaannya selalu membawa makna yang sama: memberi kesempatan kedua.
“Di balik jeruji, harapan itu ternyata tidak pernah benar-benar padam. Ia tumbuh—pelan, tapi pasti—melalui karya, melalui usaha, dan melalui kepercayaan yang mulai dibangun kembali,” tandas Decky. (tio/bfn)