KARANGASEM, Balifaktualnews.com – Komisi IV DPRD Karangasem mengusulkan penggabungan sekolah dasar (SD) yang selama beberapa tahun terakhir minimal bahkan tidak memperoleh siswa baru dengan sekolah terdekat. Langkah tersebut dinilai sebagai solusi jangka pendek untuk mengatasi rendahnya jumlah peserta didik sekaligus permasalahan kekurangan guru di Kabupaten Karangasem.
Ketua Komisi IV DPRD Karangasem, I Wayan Sudira, mengatakan usulan tersebut muncul setelah ditemukannya sejumlah SD yang hanya memiliki sedikit siswa, bahkan ada yang empat tahun berturut-turut tidak menerima murid baru.
“Untuk sementara kami mengusulkan proses belajar mengajarnya digabung dengan sekolah terdekat sambil mencari solusi terbaik di masa depan. Nanti kami akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan,” ujar Sudira, Selasa (14/7).
Menurutnya, penggabungan sekolah akan membuat proses pembelajaran lebih efektif. Selain jumlah siswa lebih menjadi ideal, distribusi guru juga dapat dimaksimalkan di tengah masih minimnya tenaga pendidik di Karangasem.
Sudira mengungkapkan, saat ini terdapat sekolah yang jumlah gurunya justru lebih banyak dibandingkan siswanya. Sebaliknya, ada sekolah dengan jumlah murid yang cukup banyak namun masih kekurangan guru.
“Persoalan utama kita sekarang adalah kekurangan guru. Kalau sekolah digabung, guru juga bisa disatukan sehingga pembelajaran menjadi lebih optimal,” tegasnya.
Menganggapi usulan tersebut, Kepala Bidang SD Disdikpora Karangasem, I Made Adriana Putra, mengatakan wacana referensi sekolah memang pernah muncul. Namun, sebelum direalisasikan perlu dilakukan kajian menyeluruh karena mencakup berbagai aspek, mulai dari regulasi, kondisi geografis hingga dampaknya terhadap masyarakat.
“Memang ada gagasan untuk menggabungkan sekolah yang siswanya sedikit, tetapi hal itu harus dikaji secara matang karena banyak hal yang perlu dipertimbangkan,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, sedikitnya dua SD negeri di Karangasem tidak memperoleh siswa baru. Apalagi salah satunya telah empat tahun berturut-turut tanpa murid baru. Sementara beberapa sekolah lainnya hanya menerima dua hingga tiga siswa akibat minimalnya jumlah anak usia sekolah dan lokasi sekolah yang berdekatan. (tio/bfn)