(Berita Faktual Ketut Parwata/Pemred Bali)
KEBERHASILAN Polres Karangasem mengungkap kasus pencurian ternak dan pencurian Bhawa atau Ketu Pedanda patut diapresiasi. Bukan semata-mata karena pelaku berhasil ditangkap, tetapi karena kasus kedua ini menyimpan pesan sosial yang jauh lebih dari sekedar tindak kriminal biasa.
Kasus pertama menunjukkan bahwa kejahatan lahir dari kecermatan pelaku membaca kelengahan masyarakat. Sapi dan babi yang dicuri bukan karena kandangnya jauh dari pemiliknya, melainkan karena pengawasan yang mulai longgar. Di tengah kesibukan sehari-hari, rasa aman sering kali membuat kewaspadaan perlahan mengendur.
Namun kasus kedua jauh lebih menyentuh hati nurani. Pencurian Bhawa atau Ketu Pedanda bukan hanya persoalan hilangnya benda berharga. Di dalamnya terdapat nilai-nilai spiritual, simbol kehormatan, dan penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan turun-temurun. Ironisnya, pelaku justru berasal dari lingkungan yang sangat dekat dengan korban, bahkan masih memiliki hubungan kekerabatan.
Di pelajaran terbesar dari dua kasus tersebut. Ancaman tidak selalu datang dari orang asing. Kadang-kadang justru muncul dari mereka yang mengetahui kebiasaan, kondisi rumah, hingga titik-titik kelemahan lingkungan sekitar. Kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Bali ternyata dapat disalahgunakan oleh segelintir orang demi kepentingan pribadi.
Faktor lain yang juga patut menjadi perhatian adalah motif kejahatan. Dari pengakuan pelaku pencurian Bhawa, hasil kejahatan digunakan untuk berjudi, baik sabung ayam maupun judi bold. Fenomena ini menunjukkan bahwa perjudian tidak hanya merugikan pelakunya, tetapi juga menjadi pemicu lahirnya tindak kriminal lain yang merugikan masyarakat luas.
Oleh karena itu, pengungkapan kasus ini tidak boleh berhenti pada proses hukum semata. Masyarakat perlu menjadikannya sebagai momentum untuk membangun kembali budaya kewaspadaan. Sistem keamanan lingkungan, pengawasan aset, hingga kepedulian terhadap perilaku menyimpang di sekitar harus diperkuat tanpa menghilangkan nilai-nilai kekeluargaan yang menjadi ciri masyarakat Bali.
Pada akhirnya, keamanan bukan hanya tugas polisi. Ia lahir dari perpaduan penegakan hukum yang tegas dan kesadaran masyarakat untuk saling menjaga. Sebab ketika kejahatan datang dari dekat, benteng pertahanan yang paling kuat bukanlah tembok tinggi, melainkan kewaspadaan bersama.***