KARANGASEM, Balifaktualnews.com – Kekhawatiran membuat kesalahan para peternak babi di Karangasem. Dalam tiga pekan terakhir, puluhan ekor babi dilaporkan mati mendadak di sejumlah wilayah tanpa penyebab pasti. Kematian ternak yang sebagian besar milik peternak rakyat itu memicu keresahan karena terjadi saat masyarakat berharap mendapat keuntungan dari penjualan babi menjelang hari raya.
Fenomena tersebut tercatat terjadi di beberapa desa, di antaranya Seraya Barat, Pertima, Timbrah, hingga Perasi. Hingga kini, penyebab pasti kematian ternak belum diketahui karena sebagian besar bangkai babi telah lebih dulu dikuburkan sebelum sempat dilakukan pengambilan sampel.
Salah seorang peternak di Desa Seraya Barat, I Nyoman Keblek, mengaku kehilangan lima ekor babi miliknya. Ternak yang mati terdiri atas seekor indukan dan empat anak babi yang sebelumnya dalam kondisi normal.
“Punya saya ada lima ekor yang mati. Satu indukan dan sisanya anak-anak babi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (25/6).
Menurut Keblek, kerugian tidak hanya dialaminya. Beberapa peternak lain di lingkungan yang sama juga mengalami nasib serupa. Bahkan ada peternak yang kehilangan hingga 15 ekor babi dalam satu periode kejadian. Harapan untuk memperoleh tambahan penghasilan menjelang Hari Raya Galungan pun pupus.
“Bukannya untung malah rugi karena babi mati,” katanya.
Yang membuat peternak semakin bingung, kematian terjadi meski pola pemeliharaan dilakukan seperti biasa. Keblek mengaku kandang rutin dibersihkan dan pakan diberikan sesuai kebutuhan ternak.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karangasem, I Made Sugiartha, sikonfirmasi, Kamis (25/6), membenarkan adanya laporan kematian babi di sejumlah wilayah. Berdasarkan data sementara yang diterima, sebanyak 17 ekor babi mati di Desa Pertima, lima ekor di Timbrah, dan 10 ekor di Perasi. Jumlah tersebut belum termasuk laporan dari Desa Seraya Barat.
“Kami belum mengetahui secara pasti alasannya. Tim sudah kami turunkan ke lapangan untuk melakukan pengecekan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Karangasem, I Ketut Suardita, menjelaskan petugas telah mendatangi beberapa lokasi peternakan terdampak. Namun penyelidikan terkendala karena bangkai ternak sudah dikuburkan sebelum pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan.
“Kami tidak sempat mengambil sampel karena babinya sudah dikubur. Jadi penyebab pasti kematiannya belum bisa dipastikan,” jelasnya.
Meski begitu, berdasarkan keterangan peternak, gejala yang muncul sebelum kematian memiliki kemiripan dengan serangan African Swine Fever (ASF). Ternak dilaporkan mengalami penurunan nafsu makan, tubuh lemas, hingga muncul bercak kemerahan di bagian telinga.
Suardita menambahkan, kematian tidak terjadi secara serentak dalam satu kandang. Beberapa babi mampu bertahan hingga lebih dari satu bulan sebelum akhirnya mati.
“Tidak mati sekaligus. Ada yang bertahan sampai 35 hari, ada juga sekitar 19 hari,” katanya.
Pihak Puskeswan mengimbau peternak meningkatkan biosekuriti kandang dengan menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan penyemprotan disinfektan guna menekan risiko penyebaran penyakit yang menyerang ternak babi. Kejelasan penyebab kematian kini dinanti para peternak yang berharap kasus serupa tidak terus meluas ke wilayah lainnya. (tio/bfn)