KARANGASEM, Balifaktualnews.com – Ketergantungan pada galian C mulai dipahami. Ketua Pansus III (Perizinan) DPRD Karangasem, Wayan Sumatra, menegaskan bahwa pelaksanaan MBLB bukan hanya urusan ekonomi, tetapi mencakup masa depan lingkungan dan arah pembangunan daerah.
“MBLB itu bersifat eksploitasi. Antara manfaat dan dampaknya, jauh lebih besar dampak negatifnya baik kerusakan infrastruktur, lingkungan, dan sosial. Jangan terus bertumpu pada sumber daya yang tidak terbarukan, karena biaya perbaikan jauh lebih mahal,” tegas Sumatra melalui sambungan telepon, Rabu (22/4).
Ia menilai, Karangasem selama ini terjebak pada pola lama mengandalkan alam untuk dikeruk, tidak dikelola. Padahal, tren di luar sektor tambang justru mulai menunjukkan arah positif. Menurutnya, perizinan harus menjadi pintu strategi untuk mengubah wajah perekonomian daerah.
“Perizinannya bukan sekedar administrasi. Ini mencakup iklim investasi, pertumbuhan ekonomi, hingga kesejahteraan masyarakat dan PAD. Kalau tidak ada kepastian, investor tidak akan datang,” ujarnya.
Wayan Sumatra juga mengingatkan agar pasir tidak lagi “diobral murah”. Ia mendorong perubahan paradigma: kualitas, bukan kuantitas.
“Pasir itu aset Karangasem dan Bali. Jangan dijual murah. Lebih baik sedikit tapi berkualitas dan bernilai tinggi, daripada banyak tapi merusak alam dan harganya rendah,” katanya.
Di sisi lain, peluang besar justru terbuka di sektor pariwisata dan investasi. Dengan kejenuhan wisatawan di Bali Selatan dan tren kerja jarak jauh (WFH), Karangasem dinilai punya momentum untuk bangkit.
“Sekarang orang bisa bekerja dari mana saja. Banyak yang ingin tinggal di desa dengan kualitas hidup lebih baik. Kalau kita tidak siap, kemungkinan itu akan lewat begitu saja,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti minimalnya investasi yang masuk ke Karangasem dibandingkan daerah lain. Tanpa kepastian hukum dan kenyamanan, investor akan terus melirik wilayah lain yang lebih siap.
“Siapa yang mau berinvestasi kalau tidak ada kepastian? Kita harus membuka wawasan, jangan terus bergantung pada pola lama,” tandasnya. (tio/bfn)