JAKARTA, Balifaktualnews.com — Industri TV berita nasional dinilai sedang “terkapar” di tengah disrupsi digital. Namun, sebagian manajemen justru terjebak sikap kontradiktif yakni menganggap platform global sebagai perusak bisnis, lalu memanfaatkannya tanpa strategi yang jelas. Kritik itu disampaikan Taufan Hariyadi saat buku bedah yang ditulisnya berjudul Connecting Media Massa di Evident Institute, Tebet, dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional yang digelar Forum Wartawan Kebangsaan (FWK), Jumat (13/2).
Menurut Taufan, tekanan datang berlapis. Mulai dari gangguan platform global, erosi pendapatan iklan, penonton TV di rumah yang terus menyusut, perubahan cara audiens mengakses berita, hingga banjir informasi palsu. Situasi ini, kata dia, memaksa berita TV merefleksikan ulang aslinya—bukan hanya mengulang pola lama yang “semakin usang”.
Ia menekankan berita TV tak bisa lagi bergantung pada teknologi “dirinya sendiri” untuk mengumpulkan, memproduksi, hingga menerbitkan. TV konvensional yang bersifat lengket membuat audiens pasif, sementara platform digital global yang spreadable menjadikan audiens aktif—bahkan mendorong audiens menjadi agen penyebar.
Masalahnya, kata Taufan, “di tengah kian terkaparnya wajah industri TV berita nasional, para manajemen puncak menganggap platform global sebagai perusak bisnis. Lalu tiba-tiba menggunakan berbagai platform global itu semau mereka.” Praktiknya sering begitu. Saat membahas platform, keluarlah keluhan. Tapi saat butuh trafik, semua jadi “oke-oke saja”. Saat bicara regulasi, ramai menggerutu. Tapi ketika algoritma memberi panggung, semua ikut “setuju-setuju saja”.
Padahal, platform tersebut sudah menjadi gerbang pertama publik yang memuat informasi.
Sejalan dengan itu, salah satu pendiri FWK yang juga mantan Ketua Umum PWI Pusat, Hendry Ch Bangun, menilai kehidupan pers saat ini memang memprihatinkan, bukan hanya di televisi, tetapi lintas platform, sebagaimana juga digambarkan dalam buku Taufan. Oleh karena itu, ia menekankan komunitas pers harus terus mencari jalan keluar agar fungsi pers sebagai pilar keempat demokrasi tetap berjalan: menyuarakan aspirasi masyarakat, memperingatkan kritis terhadap penyelenggara negara, serta menjaga kemerdekaan pers demi kemajuan bangsa dan negara. Ia juga menilai kerja sama FWK dengan Evident Institute penting, terutama untuk mendorong penelitian tentang kehidupan masyarakat dan merancang terobosan melawan tantangan yang kian besar.
Sementara itu, Koordinator Nasional FWK, Raja Perlindungan Pane, di tempat yang sama menegaskan bedah buku ini sengaja digelar sebagai “alarm” bagi arus utama media agar berhenti reaktif menyalahkan platform, lalu mulai membangun strategi konvergensi yang disiplin, terukur, dan berpijak pada kepentingan publik.
Taufan, yang masih menjadi produser di tvOne, menyebut ide buku itu berangkat dari penelitian sejak 2019 tentang konvergensi di tempat ia bekerja. Temuannya, konvergensi sering berhenti sebagai “saluran baru”, tidak berubah menjadi budaya kerja. “Saat ini konvergensi masih setengah hati,” seraya menilai media baru terus memicu perubahan sosial yang berdampak pada kenyamanan bisnis TV berita.
Ia lalu menawarkan konsep newskestraroom—ruang redaksi yang mengejar keselarasan berita: bukan hanya isi dan kemasan, tetapi juga delivery hingga sampai ke tangan publik. Newsroom, kata dia yang konvensional, terlalu bertumpu pada satu media, sementara newskestraroom menghadirkan banyak platform sebagai saluran distribusi produk berita.
Taufan memaparkan tiga kunci perubahan. Pertama, berita TV tidak lagi ditentukan siapa yang memegang kamera, melainkan siapa yang bisa membuat publik peduli, “menyunting realitas bersama” dan menyebarkan. Di sini, ia menempatkan media konvensional sebagai layar kedua sekaligus instrumen validasi—yang berarti TV bukan lagi layar utama audiens dan pendapatan iklan akan terus menurun.
Kedua, redaksi harus memproduksi multi-konten untuk multi-platform, dengan platform global sebagai layar pertama publikasi, namun tetap menghadirkan kuras khas wartawan agar konten bisa tersebar dan menciptakan keterlibatan. Ketiga, berita TV diminta membuka kolaborasi dengan penonton yang memegang sumber informasi pertama, menjadikan layar platform sebagai etalase konten penonton sebelum naik ke layar TV yang melekat.
Dalam kerangka itu, Taufan menutup dengan satu pergeseran yang ia anggap tak bisa dihindari yaitu ketika berita terkini pertama kali muncul di tangan penonton, TV berita harus siap hadir di “layar pertama” platform global. Kalau tidak, ya sudah, penonton keburu pindah dan TV tinggal jadi tontonan belakangan. (bfn)