KARANGASEM, Balifaktualnews.com – Sakitnya, senyum Ahmad Nung merekah lebih lebar dari biasanya. Di wajah lelaki 75 tahun asal Lingkungan Telaga Mas, Kelurahan Subagan, Karangasem itu, tersimpan kebahagiaan yang tak bisa ditutupi.
Setelah puluhan tahun menyimpan harap, setelah ribuan hari menabung diam-diam dari hasil perdagangan keliling, tahun ini ia akhirnya akan berangkat ke Tanah Suci.
Mekkah, yang selama ini hanya ia sebut dalam doa-doa panjang selepas salat, kini benar-benar menanti kedatangannya.
“Saya sangat senang dan bahagia. Akhirnya tahun ini bisa berangkat haji,” ucapnya lirih usai mengikuti silaturahmi calon jemaah haji di kediaman I Gusti Made Tusan, Selasa (5/5).
Kalimatnya sederhana. Namun di baliknya tersimpan cerita panjang tentang kesabaran, kerja keras, dan keyakinan yang tak pernah padam. Sejak kecil, Ahmad Nung tumbuh dalam keterbatasan. Hidup tak diberi banyak pilihan selain berjuang.
Saat anak-anak lain seusianya menikmati masa kecil, ia sudah membantu orang tua mencari nafkah. Berbekal beberapa kacamata dagangan, ia berjalan dari kampung ke kampung, menjajakan barang demi sekadar memastikan dapur tetap mengepul.
Waktu berlalu. Tubuhnya menua, tetapi perjuangannya tak pernah usai. Setelah berkeluarga, Ahmad Nung tetap bertahan di jalan yang sama. Dengan sepeda motor orang tuanya, ia berkeliling dari satu tempat wisata ke tempat lain, menawarkan kacamata dan aksesori kepada siapa saja yang ditemui.
Motor tua itu menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Mengantar dagangan, mengantarkan harapan, sekaligus mengantarkan mimpi yang diam-diam terus ia pelihara. Di sela perjalanan panjang itulah, keinginan besar itu tumbuh: suatu hari ia harus bisa menunaikan ibadah haji.
Bukan mimpi yang mudah bagi seorang pedagang kecil dengan tujuh anak yang harus dibesarkan.
Namun Ahmad Nung percaya, mimpi besar tak selalu dimulai dengan langkah besar. Kadang-kadang cukup dari recehan yang disisihkan setiap hari.
Selama hampir dua dekade, ia menghemat sedikit demi sedikit dari hasil penjualannya. Kadang Rp100 ribu. Kadang Rp200 ribu. Kadang tak ada sama sekali.
“Kalau dagangan laku banyak, saya tabung. Kalau sedikit, ya dipakai untuk kebutuhan rumah,” tuturnya sambil tersenyum.
Tak terhitung berapa kali tabungan itu nyaris terpakai untuk kebutuhan keluarga. Biaya sekolah anak-anak, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai keperluan mendesak kerap menghadang.
Namun satu hal tak pernah mengubah niatnya untuk terus menabung. Terus berharap dan terus berdoa.
Hingga akhirnya, di usia yang tak lagi muda, pintu itu benar-benar terbuka.
Meski begitu, Ahmad Nung mengaku tabungannya belum sepenuhnya cukup untuk biaya keberangkatan. Di titik itulah, tangan-tangan keluarga hadir melengkapi perjuangannya.
Anak-anak dan keponakannya membantu menutup kekurangan biaya.
“Untung ada anak dan ponakan yang membantu. Kalau sendiri, mungkin belum cukup,” katanya dengan mata berkaca.
Bagi Ahmad Nung, bantuan itu bukan sekedar soal uang. Itu adalah bukti bahwa doa panjang yang ia rajut selama bertahun-tahun akhirnya terjawab, lewat kasih sayang keluarga.
Kini, lelaki yang puluhan tahun beredar menjual kacamata itu hanya memohon satu hal, yakni kesehatan. Ia ingin menuntaskan ibadahnya dengan sempurna, pulang dalam keadaan selamat, lalu kembali memeluk keluarganya di Karangasem.
Di akhir ceritanya, Ahmad Nung menyimpan harapan yang begitu sederhana namun hangat.
“Semoga anak-anak saya juga bisa menyusul berangkat haji,” ucapnya.
Perjalanan Ahmad Nung menuju Tanah Suci adalah kisah tentang ketekunan yang tak menyerah pada keadaan.
Tentang seorang ayah sederhana yang membuktikan bahwa mimpi tak pernah mengenal usia.
Dan tentang recehan-recehan kecil yang, ketika dikumpulkan dengan kesabaran dan doa, mampu membuka jalan menuju rumah Allah. (Ketut Parwata)