KARANGASEM, Balifaktualnews.com – Langit gantung kelabu di atas Desa Adat Duda, Kecamatan Selat, Minggu (15/2) sore. Angin berembus pelan, membawa aroma asap yang mulai mengepul sejak pukul 16.00 Wita. Ratusan krama memadati ruas jalan di Jembatan Tukad Sangsang, tapal batas Desa Duda dan Desa Duda Timur.
Di atas bentangan jembatan itulah, bara suci kembali dinyalakan, menandai dimulainya tradisi siat api.
Siat api atau perang api, bukanlah sekadar atraksi adu nyali. Ia adalah denyut spiritual yang saban tahun bergetar menjelang Usaba Dalem pada sasih Kesanga dalam kalender Bali. Bara daun kelapa kering yang menyala dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Percikannya beterbangan, menyentuh kain, kulit, juga tanah. Namun dibalik pijar dan panasnya, tersimpan makna penyucian yang dijaga dengan disiplin adat.
Bendesa Adat Duda, I Komang Sujana, menyebut tradisi ini sebagai warisan leluhur yang tak terpisahkan dari siklus sakral desa. “Ini bukan sekadar perang api. Siat api adalah bagian dari upaya menjaga keseimbangan desa secara sekala dan niskala,” katanya di sela prosesi, suaranya hampir tenggelam oleh sorak semangat krama.
Tradisi ini pernah terhenti. Letusan Gunung Agung pada tahun 1963 membuat siat api tak lagi digelar. Warga memilih menata ulang kehidupan pascabencana. Hingga akhirnya, pada tahun 2017, bara itu kembali menyala. Sejak saat itu, siat api kembali rutin dilaksanakan, menjadi penanda bangkitnya ingatan kolektif dan keyakinan spiritual masyarakat.
Bagi krama Desa Adat Duda, api adalah simbol energi. Ia bisa menjadi marah, tetapi juga bisa menjadi ringan. “Melalui siat api, kami percaya kekuatan negatif dapat dinetralisir. Ini adalah ritual pembersihan alam semesta, mengembalikan unsur-unsur alam agar kembali seimbang,” tutur Sujana.
Lebih jauh lagi, siat api juga dimaknai sebagai ruang pengendalian diri. Di tengah bara yang beterbangan, setiap peserta dituntut untuk tetap sadar, tidak menguasai emosi. Api yang sama, jika tak terkendali, dapat melukai. Namun dalam kendali, ia menjadi sarana penyucian.
Di bawah mendung Kesanga, api menyala bukan untuk membakar panas. Ia menjadi simbol tekad menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam, manusia dengan sesama, dan manusia dengan Sang Pencipta. Di Jembatan Tukad Sangsang, bara itu tak sekadar berpijar. Ia menghidupkan kembali ingatan, keyakinan, dan keseimbangan Desa Adat Duda. (tio/bfn)