KARANGASEM, Balifaktualnews.com — Cuaca buruk berupa gelombang tinggi dan angin kencang di Selat Lombok memaksa sebagian nelayan besar di Kabupaten Karangasem menghentikan aktivitas melaut sejak dua hari terakhir. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2 meter, sehingga dinilai berisiko bagi keselamatan nelayan.
Rahman, nelayan asal Ujung Pesisir, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, ditemui Senin (5/1) mengatakan, hanya satu hingga dua nelayan yang nekat melaut, sementara sebagian besar memilih bertahan di darat.
“Yang turun melaut hanya satu atau dua orang. Sebagian besar tidak berani karena cuaca masih buruk,” ujarnya.
Ia mengaku sudah dua hari tidak melaut akibat gelombang tinggi disertai angin kencang yang rutin terjadi saat memasuki awal tahun. Kondisi tersebut tidak hanya membahayakan, tetapi juga berdampak pada minimalnya hasil tangkapan.
“Kalaupun ada yang melaut, hasilnya sangat sedikit. Kemarin ada nelayan hanya dapat sekitar sepuluh ekor ikan. Tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” ungkap Rahman.
Untuk mengisi waktu, sebagian nelayan memanfaatkan kondisi ini dengan memperbaiki peralatan melaut, seperti menata jaring, memperbaiki jukung, hingga melakukan perawatan mesin. Namun, tidak sedikit pula nelayan yang terpaksa menganggur karena keterbatasan aktivitas alternatif.
Rahman berharap cuaca di Selat Lombok segera membaik agar nelayan dapat kembali melaut. Terlebih lagi, harga ikan di pasaran mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.
“Semoga cuaca segera membaik, supaya kami bisa kembali bekerja,” harapnya.
Berdasarkan informasi di lapangan, kondisi gelombang tinggi dan angin kencang tidak hanya dirasakan nelayan di Ujung Pesisir, tetapi juga berdampak pada nelayan di wilayah Seraya, Bugbug, Bunutan, Kubu, Purwakerti, hingga Kubu. (tio/bfn)