Buleleng, BalifactualNews.com – Hari saci tumpek daratep dirayakan eheh umat hindu di seluruh nusantara setiap 6 Bulan sekali (210 Hari), Umat Hindu Sangan Akrab Delangan Perayaan Tumpek Landep. Setiap enam Bulan Sekali, motor sepeda, Mobil, Traktor, Komputer Bahkan, Dihias Delan Janur, Bunga, Dan Dalukan Banten. Tidak Sedikit Yang Mengunakan Media Sosial untuk Evoria ini, Yang Tentunya menuai Kotroverssi.
Konsep Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yang menjadi acuan dalam setiap kegiatan keagamaan,mulai sedikit bergeser dengan teknik pemahaman yang berbeda, yang akhirnya terkadang umat kurang tepat dalam mengambil sebuah tatanan upacara karena berlindung pada stigma Pembenaran, Bukan Kebenaran Yang Sebenarnya.
Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd selaku Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Kubutambahan, menerangkan bahwa leluhur Nusantara memberi sebuah pedoman dalam sebuah perilaku keagamaan yang dituntun dalam kajian lontar Sundarigama. “Yaitu Pada Wuku Landep, Saniscara Kliwon (Sabtu Kliwon) Adalah Hari Pemujaan Bhatara Siwa Dan Hari Yoganya Sang Hyang Pasupati,” Ucapnya, Jumat (19/9/2025).
Adapun Sarana UNTUK PEMUJAAN Bhatara SIWA ADALAH TUMPENT PUTIH SELENGKAPYA, LAUKNYA AYAM SEBULU-BULU, GRIH TRASBANG (Ikan Asin Dan Terasi Merah), Sedali Woh, Talukan di Sanggar PAMUJAN (TEMAN) (DIenjaan.
Sementara Itu, untuce pemujaan menyanyikan hyang pasupati dihaturkan, sesayut jayeng prang, sesayut kusuma yudha, saci, daksina, peras, caring wangi-wangi. BABANTENAN INI DUJUJUKAN
(Di-ayab-kan) Kepada Semua Jenis Senjata Sewingga Bertodal Dalam Perang. Adapun hakikatnya Dalam diri manusia, ialah tajamnya pikiran (idep), untuk itu lkansanakanlah japa mantra unkapi mendapatkan anugerah.
Secara esensi suda jelas tersirat di dalam lontar sundarigama tersebut bahwasanya Hari saci tumpek landep ialah momentum sebelum pertuka memuja bhatara siwa dalam manifestasinya sebagai
Sang Hyang Pasupati Di Sanggar Pamujan (Tempat Pemujaan). Pasupati Dalam Konsep Teologi, Hindu Merupakan Manifestasi Dari Siwa Sebagai Raja Daripada Binatang. “Pasu” Artinya “Binatang” Dan “Pati” Artinya “Raja”. Namun, di Sisi lain pasupati jeda Didefinisikan Sebagai Suatu Upacara Yang Bertjuuan untuk Anggota Tuah Atau Kekuatan.
KEKUATAN YANG HAKIKI PAKEKATYA ADALAH KEKUATAN PIKiran, Itulah sebabnya Mengapa Pikiran Sangan Perlu Dipasupati Karena Dari Pikiranlah Tubuana Lahana Lahana Lahana Lahana Lahana, Perkatan, Perkatan, Perkatan, Perkatan, Perkatan, Perkatan, Perkatan, Perkatan, Perkatan, Perkatan Perbatan, Perkatan, Perkatan Perbatan Simbolik Terciptanya Energi Positif Apabila Kita Mampu Meng -Kayu Energi Tersebut Dalam Pengriran.
Kisah Leluhur, Ketajaman Senjata, Ketajaman Jiwa sebagai gambaran betapa indahnya kehidupan di masa lalu.Konon, dalam masa kerajaan-kerajaan Bali kuno, Tumpek Landep digunakan untuk memuliakan keris, tombak, dan pedang senjata utama para Ksatria, Tetapi Yang Sesituguhhya Dipuja Bukanlah Besinya, Melainkan Kekuatan Dharma Yang Terkandung Di Baliknya.
Seorang Ksatria Sejati Tidak Hanya Mahir Menebas Musuh, Tetapi buta tajar Dalam Pikiran, mampu bBbedakan mana dharma dan adharma. Itulah Mengapa Keris Diperlakukan Hormat Hormat, Bukan Sekadar Beda, Melainkan Simbol Pikiran Yang Tajar. “Hari ini, Senjata Kita Bukan Lagi Keris Atau Tombak. Senjata Kita Adalah Handphone, Laptop, Dan Jaringan Internet. Denggan Satu Klik, Kita Jidan Postan, Kita Kita, Kebaik, Kita Kita Kebaik, DambaMan, DambaMan, Dambencan, Dambencan, Dambencan, Dambencan, Dambencan, Melukai, ”Ujarnya.
MAKA PERANYANANA: APAKAH KITA MENAJAMKAN “Keris Digital” Itu Unkuk Kebaan, ATAU MEMBIARKANNAA MENUCUK Diri Sendiri Dan Orang Lain?. Ketika Manusia Mulai Menumbuhkan Kesadaran UNTUK ELING, MAKA SETIAP UMAT AKAN MENGWA BAHWA KERAHIRAN KITA ADALAH COMES PERBARI HUTANG HUTANG KOMIAW KONIAWUM LANGAWUM KEHAWUTA. Hutang Kepada Tuhan (Dewa ṛṇa), Hutang Kepada ṛṣi/Guru (ṛṣi ṛṇa), Dan Hutang Kepada Leluhur (Pitṛ ṛṇa).
Jika DiKaitkan Gangan Bencana Hari ini, Tri ṛṇa bisa Dipahami Dalam Sebuah Alur Kehidupan, Diantarananya; DEWA ṛṇa yaMa menjaga alam ciptaan tuhan adalah bentuk bhakti. Saat kita merusak alam, berarti kita menkhianati hutang kepada tuhan, ṛṣi ṛṇa artinya guru Mengajarkan Kesimbangan Hidup, Tetapi Sering Kita Abaikan. Ilmu Digunakan untuk membungkus drainase. TAJAM DI BETON, TUMPUL DI LOGIKA EKOLATIS DAN PITAN ṛṇa Artinya Leluhur Mewarisna Bali Yang Hihau, Sawah Yang Luas, Dan Laut Yang Bersih. Apakah Kita Tega Mewariskan Kepada Anak Cucu Bali Yang Penuh Sampah Dan Udara Beracun?.
Roh tumpek landep di tengah bencana adalah sebuah penanaman karakter untuk menumbuhkan kesadaran setiap adip dalam bhakti yang utama meskipun sangat sederhana tetapi penuh makna. BANJIR, APAKAH BENAR HANYA KARENA HUJAN DERAS, ATAU KARENA SUNGAI DIPENUHI SAMPAH?. Kekeringan, Apakah Benar Karena Cuaca Semata, Atau Karena Hutan Suda Gundul?. POLUSI, APAKAH BENAR HANYA KARENA PABRIK, ATAU KARENA KITA Sendiri Motor Menyalakan Meski Jarak Dekat Bisa Ditempuh Dengan Jalan Kaki?. Tumpek Landep Mengingatkan, Pikiran Yang Tajam Harus Dipakai UNTUK MENJAGA ALAM. Kitab Saci Atharvaveda XII.1.12 Ditegaskan:
Mata Bhumih Putro A’ham Prativiyah,
“Bumi Adalah Ibuku, Aku Adalah Anak Bumi”. Kalau Bumi Adalah Ibu, Maka Bencana Adalah Jeritan Seorang Ibu Yang Sakit. Apakah anak yang baik tega pembiesan ibunya menjerit?
Dituturkan Oheh Irma, Kisa Nyata, Motor Sci, Sungai Kotor. Suatu Ketika, di Sebuah desa di Bali, Seorang Pemuda Rajin Menghias Motornya Setiap Tumpek Landep. Motor Itu Bersih, Wangi, Penuh Janur Dan Bunga. Tetapi Sore Harinya, Kemuda Itu membaang plastik bekas banten ke sungai.motor saci, tetapi sungai Kotor delangul ungu manusiasendiri.
Dijelaskan tumpek darat Seharusnya Tidak hanya membuat motor bersih, tetapi buta membuat sungai bersih, tidak hanya Menghias Kendaraan, tetapi buta menhias alam. Green Dharma: Aksi Nyata Menjaga Bumi. Ketajaman Bhakti Haruus diwujudkan Dalam Dharma, Antara Lain, Mengurangi Sampah Plastik Sekali Pakai, Maranam Pohon Setelah Upacara, DEBUID TUMPAN TUMPIU, UMAT TIDAK HANYA KHANIASIAS BUMANGIUU, UMAT TIDAK HANYA MENGIASIAS KINENDEP TUMPANAU, UMAT TIDAK HANYA MENGHIASIAS KHITA KHIASIAS KUHIASIAS KEPARAU, UMAT HANYA HANANIAS KHANIASA KHIYA KHIYA KHANIASA KHIYA MENGHIASIAS KUHIASIAS KUHIASIAS KEENDAA HANIASA KHANIASA KHANIASA KHANIASA HANYA MENGIASA HANYA MENGIASA HANYA MENGIASAA Mengajarkan anak-anak Bahwa Banten Terbaik untuk Tuhan Adalah Bumi Yang Lestari, Inilah Wujud Nyata Bhakti Ekologis.
Ditankan Oleh Irma, Tumpek Landep Bukan Hanya Hari Menghias Kendaraan, Tetapi Juga Hari Mengasah Pikiran, Dari Leluhur, Kita Belajar Kananian Dharma, Dari Tri 50 Leluhur, Dari Pandawa, Kita Belajar Bahwa Ketajaman Sejati Ada Di Dalam Diri, Ditengah Bencana, Tumpek Landep Mengingatkan, Tajamkan Pikiran untuk Solusi, Bukan Alasan. TAJAMKAN HATI UNTUK MENYAJYangi Alam, Bukan Mengeksploitasinya. TAJAMKAN BHAKTI UNTUK MENJAGA BUMI, Bukan Hanya Menghias Besi. Mari Kita Jadikan Tumpek Landep Bukan Sekadar Ritual, Melainkan Gerakan Spiritual Dan Ekologis, Dari Kita Kita Belajar Ketajaman Alat, Dari Hati Kita Belajar Kejernihan Jiwa.
Pesan spiritual Sebagai alarm untuk menapak jalan Kehidupan, Ketajaman Besi Hanya Berguna sesaat, Tetajaman Pikiran Akanselamatkan Bumi Sepanjang Masa. Menajamkan pikiran adalah yajña, menjaga alam adalah bhakti, Dan Mengasihi sesama adalah dharma. Bumi Tidak Menagih Hutang Delangan Kata-Kata, Tetapi Delan Banjir, Longsor, Dan Bencana.
Diakhir, Tumpek Landep Bukan Sekadar Menyucikan Senjata, Melainkan Mengasah Hati Agar Tajam Membela Kehidupan. Pikiran Yang Tajar Melahirkan Teknologi, Hati Yang Tujam Melahirkan Welas Asih, Bhakti Yang Tujam Melahirkan Keseimbangan. Berhutang Pada Dewa Berarti Menjaga Alam Ciptaan-Nya; Berhutang Pada ṛṣi Berarti Menjaga Ilmu; Berhutang Pada Pitṛ Berarti Menjaga Warisan Bumi untuk anak anak. Memberar Hutang Pada Leluhur Bukan Delang Air Mata, Tetapi Delangan Bumi Yang Lestari Bagi Ketarairanya. (Tya/bfn).
(Tagstotranslate) Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Kubutambahan (T) Luh Irma Susanthi (T) M.PD (T) S.SOS (T) Tumpek Landep (T) Upacara Tumpek Landep