JAKARTA, Balifaktualnews.com – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid secara resmi mengumumkan hasil seleksi pengguna pita frekuensi radio 1,4 GHz, sebuah langkah krusial dalam agenda percepatan penetrasi broadband tetap (fixed wireless broadband) di seluruh Nusantara.
Hasilnya, MyRepublic dan Surge terpilih sebagai pemenang, berhak mengelola alokasi spektrum lebar selebar 80 MHz (rentang 1432–1512 MHz) yang akan digunakan untuk layanan akses nirkabel pita lebar (BWA) di tiga regional Indonesia.
Pengumuman ini mengejutkan sebagian kalangan yang sebelumnya memperkirakan operator seluler besar akan menjadi pemenang utama. Namun Komdigi menegaskan bahwa dalam proses seleksi selain aspek harga spektrum, pertimbangan utamanya adalah komitmen pengembangan jaringan, fiberisasi ke BTS, dan jangkauan hingga wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Dengan demikian, MyRepublic (yang dikenal dengan layanan fiber rumah) dan Surge (yang memiliki sejarah dalam layanan jaringan “non-seluler”) berhasil menonjol karena menampilkan proposal yang sangat agresif dalam mencakup wilayah serta janji harga layanan yang terjangkau.
“Pemenangnya dari lelang (1,4 Ghz) akan diberikan target serta komitmen untuk membangun 20 juta koneksi internet rumah secara nasional,” kata Meutya kepada awak media, di Jakarta pada Kamis (23/10).
Lebih jauh lagi, Komdigi menyampaikan bahwa skema seleksi kali ini memang ditujukan untuk membuka ruang persaingan baru bukan sekadar memperkuat pemain besar yang sudah mapan, guna mendorong inovasi dan menekan tarif internet tetap di Indonesia.
Skema ini mencakup persyaratan bahwa pemenang harus memulai pembangunan dalam lima tahun, dengan target kecepatan hingga 100 Mbps bagi rumah tangga dan tarif yang “masuk akal” untuk segmen menengah ke bawah. Tantangan memang tak ringan: ekosistem untuk frekuensi 1,4 GHz belum konsultasi pita-spektrum yang lebih matang, dan pemain yang menang harus bersiap menyiapkan fiber feed ke BTS, modem yang sesuai, serta layanan yang bisa bersaing dengan kabel optik.
Namun dengan keputusannya, Komdigi ingin mengirimkan sinyal bahwa masa depan akses internet tetap bukan hanya milik operator seluler besar, tetapi juga kontestan yang agresif dalam inovasi. Bagi MyRepublic dan Surge, kemenangan ini adalah peluang besar sekaligus tanggung jawab menyediakan jaringan yang tidak hanya cepat, tetapi juga terjangkau dan merata. Bagi Komdigi, keputusan ini menjadi langkah strategis untuk merealisasikan visi internet cepat dan murah untuk seluruh rakyat Indonesia.
“Peserta Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 1,4 GHz untuk Akses Nirkabel Pitalebar (Broadband Wireless Access) Tahun 2025 yang telah sesuai dengan ketentuan dalam dokumen seleksi Layanan, dapat menyampaikan sanggahan hasil seleksi dalam bentuk tertulis melalui surat resmi dengan disertai bukti yang memperkuat sanggahan dan disampaikan secara berani melalui sistem e-Auction paling lambat Jumat, 17 Oktober 2025 Pukul 15.00 WIB,” sebagaimana yang ditulis Komdigi dalam pengumumannya. (ina/bfn)