JAKARTA, Balifaktualnews.com – “Lubang coronal matahari yang kembali dapat menimbulkan badai geomagnetik dan aurora yang mempesona di bawah langit yang cerah dan gelap akhir pekan ini,” kata ahli NASA sebagaimana dilansir dari laman NASA.gov.
Menurutnya, Sebuah lubang koronal besar di atmosfer matahari saat ini sedang menghadap Bumi, mengirimkan hembusan angin matahari berkecepatan tinggi ke arah kita yang dapat memicu badai geomagnetik dan aurora akhir pekan ini.
Aliran angin matahari yang cepat ini diperkirakan akan tiba Sabtu malam hingga Minggu (11-12 Oktober), menurut prakiraan cuaca antariksa dari Pusat Prediksi Cuaca Antariksa NOAA dan Badan Meteorologi Inggris. Aktivitas geomagnetik dapat mulai meningkat pada akhir 11 Oktober, dengan aktivitas tertinggi diperkirakan antara pukul 05.00 dan 17.00 EDT (09.00-17.00 GMT) pada 12 Oktober.
Jika kondisi badai geomagnetik minor (G1) yang diprediksi tercapai pada 12 Oktober, aurora dapat terlihat hingga ke selatan hingga Michigan utara dan Maine, menurut skala G NOAA, yang mengukur kekuatan gangguan ini. Namun, mengingat waktunya, tepat setelah ekuinoks musim gugur baru-baru ini, peningkatan kecil aktivitas pun dapat berdampak lebih besar dan meningkatkan kemungkinan aurora yang lebih luas di akhir pekan ini.
Ini bukan pertama kalinya kita melihat lubang koronal ini, meskipun terlihat sedikit berbeda. Ini adalah fitur yang sama yang kita lihat bulan lalu, yang berbentuk seperti kupu-kupu atau burung. Lubang koronal dapat bertahan selama berbulan-bulan, muncul kembali setiap 27 hari atau lebih saat matahari menyelesaikan satu rotasi matahari.
Lubang koronal adalah area di mana medan magnet matahari terbuka, memungkinkan angin matahari mengalir lebih bebas ke luar angkasa. Ketika angin matahari ini mencapai Bumi, ia berinteraksi dengan medan magnet planet kita, atau magnetosfer, dan beberapa partikel energik tersebut diarahkan melewati garis medan magnet menuju kutub. Saat mereka menyerang dengan atom dan molekul yang tinggi di atmosfer bumi, sebagian besar oksigen dan nitrogen, mereka melepaskan energi sebagai cahaya, menciptakan tirai cahaya yang kita kenal sebagai aurora.
Waktu akhir pekan ini cocok untuk para pemburu aurora karena menjelang musim gugur ekuinoks, kemiringan bumi sejajar dengan medan magnet planet kita. Peningkatan musiman ini dikenal sebagai efek Russell-McPherron.
prakiraan terbaru NOAA memprediksi indeks Kp puncak sebesar 5, yang sesuai dengan kondisi badai geomagnetik minor (G1). Indeks Kp adalah skala global yang mengukur aktivitas geomagnetik dari 0 (tenang) hingga 9 (ekstrem). Semakin tinggi angkanya, semakin besar peluang untuk melihat aurora yang lebih jauh dari wilayah kutubnya. (ina/bfn)